Tari Kreasi Sombayya Karaeng Baine


     Pangkajene dan Kepulauan dahulunya terdiri dari beberapa akkarungeng (kekaraengan). Beberapa diantaranya, berdasarkan garis keturunan, menunjukkan bahwa tahta arung (karaeng) atau yang biasa di sebut sombayya pernah ditahtai oleh seorang raja perempuan. Hal ini jelas tergambar dari silsilah beberapa akkarungeng di Pangkep yang menempatkan sosok raja wanita sebagai pong (akar) akkarungeng. 

     Tari Sombayya Karaeng Baine menggambarkan tentang raja-raja wanita yang pernah bertahta di akkarungeng Pangkajene yang memerintah dengan arif dan bijaksana tetapi tetap lembut, anggun dan malebbi sehingga tidak meninggalkan kesannya sebagai seorang wanita Bugis-Makassar. Keberhasilan raja-raja wanita di Pangkajene juga tergambar dari kecakapan bekerjasama dengan kerajaan tetangga seperti akkarungeng Tanete sehingga terciptanya delegasi antara akkarungeng yang berimbas pada situasi kondusif untuk seluruh rakyat di bawah pemerintahannya.

     Tarian ini merupakan tarian karya tunggal saya yang kedua. Gerakan-gerakan dalam tarian ini di selesaikan dalam waktu yang singkat namun tetap bermakna. Tarian ini memperoleh juara 2 pada FlS2N tingkat SMA cabang Tari Berpasangan Se-Kabupaten Pangkep.

     Meski menduduki peringkat ke-2, animo penonton benar-benar tercurah pada karya saya yang satu ini. Pujian dan sanjungan yang membesarkan kepala menggema dari para penonton.

Tari Mula Tangke'na To Manurunge Ri Nitu


Tari Mula Tangke'na To Manurung Ri Nitu merupakan karya pertama Andi Jaya Nasaruddin yang diciptakannya pada saat masih berseragam Putih - Abu-abu. Tari ini merupakan tari kreasi berpasangan yang diciptakan dalam rangka Festival Lomba Seni Siswa Nasional.
Tarian ini menggambarkan tentang To Manurunge Ri Nitu yang diberi nama Sari Wulang yang bermakna cahaya bulan. Seorang wanita yang cantik jelita lengkap dengan pakaian kebesaran yang dipercayai turun dari kayangan mewakili Puang Seuwak yang membawa ornamen yang disebut Kalompoanga. Turunnya Sari Wulan ke bumi menjadikan konsep katoanga sebagai acuan terbentuknya anrong appaka. Tarian ini menceritakan tentang kecantikan Manurungge Ri Nitu yang tersohor kemana-mana dan terdengar oleh seorang Raja bernama Karaeng Bajo Manurunga ri Gowa yang digelar Karaeng Iballe yang membawa pula ornamen Kalompoanga ri Gowa untuk mempersunting Manurungge Ri Nitu. Pernikahan inilah yang dipercaya menjadi cikal bakal raja-raja bugis makassar terutama kerajaan siang. Penyatuan cinta keduanya adalah cahaya pemersatu suku Bugi-Makassar.
Tarian ini memperoleh apresiasi Juara 1 Se-Kabupaten Pangkep pada Tahun 2013, yang kemudian dipentaskan ke dua kalinya pada penamatan siswa SMA Negeri 2 Pangkajene Angkatan ke-2 pada tahun 2013.