Pagi yang cerah dipertengahan Januari.
Aku menghirup udara kebebasan setelah terlepas dari rutinitas kampus yang
begitu padat. Aku mematung manatap mereka. Juru-juru[1]yang
terbang begitu bebas di pekarangan rumahku. Beterbangan dari satu tangkai
rumput ke tangkai yang lain.
Anganku melayang mengenang masa
kecilku. Dahulu, aku dan kawan-kawan yang lain begitu bahagia bila rumput di
pekarangan mulai tumbuh memanjang karena pasti akan banyak sekali juru-juru yang terbang. Bila saat itu
tiba, sebatang lidi dan plastik bening bekas kemasan gula akan menjadi senjata
pamungkas untuk kami menangkap juru-juru.
Panas matahari akan memanggang kulit
kami yang sibuk mengendap-endap diatas hamparan rumput hijau. Mengintai setiap juru-juru yang terbang dan hinggap
dengan begitu lugas.
Aku tersenyum sendiri mengingatnya.
Lalu tanpa sengaja aku bersenandung.
“-Luttu’ko,
luttu’ko.. engka tau modo’ko-”[2]
Senandung yang digunakan untuk mengganggu sang
penangkap juru-juruagar tidak
mendapat juru-juru terlebih dahulu.
Senandung yang bermaksud memperingatkan sang juru-juru untuk terbang karena sedang diintai. Senandung yang
diperdengarkan langsung oleh nenek-nenek kami dulu. Senandung yang menjadi
jargon andalan kami.
Begitu asik dan indah. Beradu menangkap juru-juru di bawah sinar matahari yang
terik. Hijau, biru, jingga yang begitu elok terbang dari satu tangkai ke
tangkai yang lain. Menumbuhkan kecintaan terhadap alam dan meningkatkan
interaksi diantara kami yang sedang beradu lewat senandung yang menjadi jargon
kami mengacau antara satu sama lain.
Namun, dikekinian tak ada lagi hal
seperti itu. Ma’juru-juru[3]
telah menjadi sebuah permain kampung yang langka. Permain kampung yang terkesan
kuno, ketinggalan jaman dan ber-image kolot.
Gadget telah merajai keseharian anak
masa kini. Bagaimana tidak, dengan gadget
mereka dapat bermain sesuka hati tanpa perlu berpanas-panas tanpa perlu ada
interaksi dengan alam dan teman yang lain. Dengan gadget setiap anak punya dunianya sendiri. Individualisme menjadi
hal yang wajar di kekinian.
Gadget
telah menjadi alat canggih yang menggeser sebatang lidi dan plastik bening
bekas kemasan gula. Senandung yang telah berakar kuat dari nenek moyang tidak
lagi terdengar yang ada hanyalah musik-musik permainan game yang nge-bit. Nilai
sosial anak-anak jaman sekarang mulai menurun karena individualisme mereka yang
semakin tinggi.
Pertumbuhan gadget menjadi salah satu penanda memudarnya budaya permainan ma’juru-juru di tanah Bugis-Makassar.
Dan kelak, mungkin tak ada lagi bukti bahwa ma’juru-juru
pernah menjadi permainan yang bagitu indah di tanah ini sebab belum banyak buku
yang merekam keseharian permainan ma’juru-juru
ini. Sepertinya, ma’juru-juru akan
tenggelam seperti tenggelamnya kisah Kerajaan Barasa yang tak tertuang secara
jelas dalam sumber tulisan.
Gusung-Nge’ Pangkejene, 17
Januari 2015
[1]
Capung,
[2]
“-Terbanglah, terbanglah.. ada orang yang mengintaimu-”
[3]
Bermain capung atau menangkap capung
0 Response to "Mengaksarakan Waktu"
Post a Comment