Langit masih saja bergemuruh
Menangis dalam suara yang keluh
Pun dingin menusuk tubuh
Menusuk tulang yang merapuh
Kaki ini masih mengayuh
Lelah tanpa tetesan peluh
Meski hati penuh keluh
Kucoba untuk tetap tangguh
Aku tak tau, di sudut mana aku akan terjatuh. Keadaan tubuhku yang masih kurang stabil tak ku pikir lagi. Setelah hujan menghantamku kemarin sore, hari ini kembali ku ikhlaskan tubuhku dihantam desiran hujan yang begitu dingin-sekali lagi. Kulajukan dua roda motor matic kesayanganku di antara roda-roda mobil truk besar di sepanjang jalan berlubang menuju kampung halaman.
Tradisi memperingati hari-hari ganjil kematian masih begitu di lestarikan oleh keluarga besarku. Begitu pula kali ini. Sabtu bertepatan dengan momen peringatan hari ketiga berpulangnya paman dari ibuku.
Seperti hujan yang mengguyurku selama perjalanan, hatiku menangis sepanjang jalan. Tapi bukan karena aku masih mengenang almarhum tapi masalah interen keluarga besar yang menyudutkan kedua orang tuaku-terutama ibuku. Selisih paham akan kegiatan harian dalam momentum berkabung membuahkan konflik yang bahkan terjadi dalam satu aliran darah.
Seperti hujan yang mengguyurku selama perjalanan, hatiku menangis sepanjang jalan. Tapi bukan karena aku masih mengenang almarhum tapi masalah interen keluarga besar yang menyudutkan kedua orang tuaku-terutama ibuku. Selisih paham akan kegiatan harian dalam momentum berkabung membuahkan konflik yang bahkan terjadi dalam satu aliran darah.
Emosiku sudah memuncak ke ubun-ubun. Aku benar-benar marah. Bagaimana tidak, ibuku mendapat perlakuan yang tidak layak. Ia harus menjadi bahan gunjingan dugaan tak bersalah. Aku benci semuanya. Apalagi dalangnya adalah orang munafik tingkat dewa. Amarahku menusuk nurani terdalamku. Sangat dalam. Kalau saja bukan karena ibuku yang menahanku, aku sudah meluapkan seribu macam kata kasar dan kotor untuk mencaci mereka.
"Biarlah, bagaimanapun darahnya adalah darahmu. Tak patut kau melakukannya. Jika kau berbuat seperti itu, apa bedanya kau dengannya?" hanya kalimat itu yang meluncur dari bibir ibuku. Disertai tatapan mata nanar yang masih sembab. Aku masih faham betapa pedih ibuku, tapi ia tetap berusaha sabar.
"Biarlah, bagaimanapun darahnya adalah darahmu. Tak patut kau melakukannya. Jika kau berbuat seperti itu, apa bedanya kau dengannya?" hanya kalimat itu yang meluncur dari bibir ibuku. Disertai tatapan mata nanar yang masih sembab. Aku masih faham betapa pedih ibuku, tapi ia tetap berusaha sabar.
Demi ibuku, aku bungkam. Diam seribu bahasa. Menutup luka dengan tawa paksa. Simpul senyum temaram. Semua hal ini membuatku lelah tanpa peluh. Hatiku mengeluh, ini semua tak benar. Ibuku begitu menderita. Namun aku akan tetap tangguh. mencoba menahan emosi dari relung kalbu.
Pangkajene, 06 Desember 2014
0 Response to "Munafik"
Post a Comment