Memilah

Sobat, sadarkah engkau?
Aku bungkam bersama ilalang
Menanti setiap cerita dan tawamu
Di bawah senja yang kini telah begitu gelap
Senja yang tak lagi bisa kita genggam
Dan membiarkan malam menghapus cerita kita

 
    Perubahan. Setiap manusia pasti akan berubah. Baik itu kebiasaan, pola pikir bahkan tingkah laku. Semuanya tergantung di mana ia berada. lingkungan akan berdampak langsung terhadap setiap pribadi individu.
    Aku terkadang terheran. Perubahan yang datang begitu drastis membuatku tercengang. Yah, meskipun perubahan adalah hal yang wajar tapi tetap saja beberapa perubahan di sekitarku terasa tidak "ngeh" denganku. Terkadang aku tak nyaman dengan perubahan yang terjadi di lingkunganku. Teramat tidak nyaman. Sama halnya seperti perubahan lingkungan dari bangku sekolah ke bangku kuliah, aku juga masih perlu banyak waktu untuk beradap tasi terhadap perubahan yang terjadi pada teman-temanku.
    Aku punya seorang teman. Aku belum lama mengenalnya. Semuanya dimulai lewat sebuah akun sosial media. Awalnya aku merasa bahwa aku mulai bisa mengerti kepribadiannya. Komunikasi yang terjalin dua arah membuka pikiranku bahwa dia adalah orang yang asik.
    Yah tapi, dirinya adalah haknya. Dia berubah begitu cepat. Saat ini aku seperti tak lagi mengenalnya. Dia bukan lagi teman yang ku kenal. Mungkin sudah saatnya aku juga mulai untuk merubah mindset ku sendiri. Mungkin aku harus memulainya dengan memilah teman yang sesuai. Karena aku sendiri tak mau jika dalam pertemanan aku merasa tidak nyaman.

Munafik

Langit masih saja bergemuruh
Menangis dalam suara yang keluh

Pun dingin menusuk tubuh
Menusuk tulang yang merapuh
Kaki ini masih mengayuh
Lelah tanpa tetesan peluh
Meski hati penuh keluh
Kucoba untuk tetap tangguh

     Aku tak tau, di sudut mana aku akan terjatuh. Keadaan tubuhku yang masih kurang stabil tak ku pikir lagi. Setelah hujan menghantamku kemarin sore, hari ini kembali ku ikhlaskan tubuhku dihantam desiran hujan yang begitu dingin-sekali lagi. Kulajukan dua roda motor matic kesayanganku di antara roda-roda mobil truk besar di sepanjang jalan berlubang menuju kampung halaman.
     Tradisi memperingati hari-hari ganjil kematian masih begitu di lestarikan oleh keluarga besarku. Begitu pula kali ini. Sabtu bertepatan dengan momen peringatan hari ketiga berpulangnya paman dari ibuku.
     Seperti hujan yang mengguyurku selama perjalanan, hatiku menangis sepanjang jalan. Tapi bukan karena aku masih mengenang almarhum tapi masalah interen keluarga besar yang menyudutkan kedua orang tuaku-terutama ibuku. Selisih paham akan kegiatan harian dalam momentum berkabung membuahkan konflik yang bahkan terjadi dalam satu aliran darah.
     Emosiku sudah memuncak ke ubun-ubun. Aku benar-benar marah. Bagaimana tidak, ibuku mendapat perlakuan yang tidak layak. Ia harus menjadi bahan gunjingan dugaan tak bersalah. Aku benci semuanya. Apalagi dalangnya adalah orang munafik tingkat dewa. Amarahku menusuk nurani terdalamku. Sangat dalam. Kalau saja bukan karena ibuku yang menahanku, aku sudah meluapkan seribu macam kata kasar dan kotor untuk mencaci mereka.
     "Biarlah, bagaimanapun darahnya adalah darahmu. Tak patut kau melakukannya. Jika kau berbuat seperti itu, apa bedanya kau dengannya?" hanya kalimat itu yang meluncur dari bibir ibuku. Disertai tatapan mata nanar yang masih sembab. Aku masih faham betapa pedih ibuku, tapi ia tetap berusaha sabar.
     Demi ibuku, aku bungkam. Diam seribu bahasa. Menutup luka dengan tawa paksa. Simpul senyum temaram. Semua hal ini membuatku lelah tanpa peluh. Hatiku mengeluh, ini semua tak benar. Ibuku begitu menderita. Namun aku akan tetap tangguh. mencoba menahan emosi dari relung kalbu.


Pangkajene, 06 Desember 2014
    

Darimu Untukmu Ibu



Darimu Untukmu Ibu
Karya : Andi Jaya Nasaruddin

Awal hidupku bermula di dalam kandungannya
Saat itu, semua hidupku bergantung padanya
Rahim miliknya menjadi tempat tinggalku
Makanannya adalah sumber energiku
Butiran-butiran oksigen yang dihirupnya
Menjadi pembangkit semangat hidupku

Setelah melahirkanku
Ia membesarkanku dengan penuh kasih sayang
Merawatku dengan segenap tenaga
Hidupku berarti karenanya
Merasakan dekapannya adalah hal terindah dalam hidupku
Dekapan hangat penuh cinta suci
Setiap cinta yang diberikannya adalah sebuah dorongan jiwa

Di bawah naungannya aku berdiri
Tumbuh dan berkembang sampai saat ini
Dekapan penuh kehangatannya membuatku selalu mencintainya
Ibu.., terima kasih atas segalanya

Walau berat, akan kubuktikan
Dekapan penuh kasihmu akan membuatku berdiri
Menjadi sesosok yang dapat dibanggakan
Menjadi tiang di atas tanah kebanggaan
Menjadi mata air di tengah kekeringan
Menjadi lilin di tengah kegelapan

Aku berjanji untuk hati kecilmu
Semuanya akan terwujud
Demi membalas semua pengorbananmu
Demi membalas seluruh cinta kasihmu
Kan ku picu segala kemauan
Kan ku kerahkan segala tenaga
Untuk mewujudkan segalanya
Demi namamu dan demi semua pemberianmu
Ku abdikan darma baktiku

Ibu.. sehatlah selalu
Ku mau engkau dapat menikmati segalanya
Segala hasil jerih payahku
Hasil keringat dari bocah yang pernah hidup dalam rahimmu
Semuanya adalah kasih pembangunanmu
Kau telah membangun sebuah pondasi kokoh dalam hidupku
Terima kasih untukmu yang selalu menyayangiku


Gusunge, 5 Desember 2014

Senja Cerita Kita



Senja Cerita Kita
Cipt : Andi Jaya Nasaruddin

Dulu, kaki kita melangkah beriring
Tawa renyah bahagia memekik merdu
Menyisir setiap batang ilalang
Di bawah langit senja, tempat kita bersua
Tertawa lepas bebas bagai merpati

Kini, tak kudengar lagi tawa itu
Tak ada lagi kebahagiaan di bawah langit senja
Yang ada, hanya pekikan jangkrik penuh kebisingan
Gemuruh obak hamparan tak bertepi
Membuatku merasa begitu sendiri
Sunyi, sepi, tanpamu

Awan hitam membungkus langit
Menutup setiap cerita dari bisikan angin senja
Senja yang dulu adalah milik kita
Seperti tawa yang lepas ke udara
Menggema indah tapi hilang entah kemana

Sadarkah engkau?
Hanya karena sosok yang kau idamkan itu,
Hanya karena sosok yang kau impikan itu
Aku bungkam bersama ilalang
Menanti setiap cerita dan tawamu
Di lautan penantian tak bertepi
Di bawah senja yang kini telah begitu gelap
Senja yang tak lagi bisa kita genggam
Tapi kau tetap tak pernah menoleh
Membiarkan malam menghapus cerita kita





Makassar, 1 Desember 2014