Judul Film : Badik Titipan Ayah
Dirilis : 2 Oktober 2010
Durasi : 01:22:05 (terbagi atas 11 bagian)
Sutradara : Dedi Setiadi
Penulis Naskah : Taufik Daraming Tahir
Desain Produksi : Deddy Mizwar
Produser : Zairin
Zain dan Mudzakir Rifai
Produksi : Citra
Sinema
Pemain
Utama :
Tika Bravia :
Andi Tenri (putri tunggal Karaeng Tiro/kekasih A. Firman)
Reza Rahadian : Andi Aso (putra tunggal Karaeng Tiro)
Guntara Hidayat : Andi Firman (kekasih Andi Tenri)
Pemain
Lain :
Aspar Paturusi : Karaeng Tiro (ayah Andi Aso dan Andi
Tenri)
Widyawati : Karaeng Caya (isteri
karaeng Tiro/ibu A. Aso & A. Tenri)
Ilham Anwar : Limpo (anak angkat Karaeng Tiro)
Laksmi Aspar : Daeng Kanang
Edwin Sukmono : Chandra
Cut Adis : Dewi (kekasih Andi Aso)
Siri’ Berganjar Nyawa
Film televisi (FTV)
ini merupakan sebuah produk yang sangat bagus karena mengangkat tema tentang
budaya siri’ yang dijunjung tinggi
dan sangat dijaga oleh masyarakat suku Bugis-Makasaar. Film yang diprakarsai
oleh Deddy Mizwar ini merupakan suatu karya yang jarang ditemukan karena
menguak tentang kearifan budaya lokal Bugis-Makassar. Film ini memicu animo dan
antusias penonton terutama di daerah Makassar karena merasa penasaran dengan
judul yang diusung oleh produser. Nuansa kedaerahan sangat kental di dalam
karya ini, penggambaran tentang bagaimana masyarakat Bugis-Makassar menyikapi
dan menyelesaikan masalah yang sangat fatal yang menyangkut harkat dan martabat
keluarga.
Diceritakan,
putri tunggal Karaeng Tiro dan Karaeng Caya yaitu Andi Tenri memutuskan
untuk kawin lari (silariang) bersama
kekasihnya Andi Firman yang telah menghamilinya atas permintaannya sendiri.
Alasan mengapa ia melakukan kawin lari (silariang)
adalah karena ia sadar bahwa rencananya untuk menjadikan bayi yang ada di dalam
kandungannya sebagai alasan untuk menyatukan cintanya bersama Andi Firman akan
sia-sia dan bahkan akan memicu kemarahan tettanya, Karaeng Tiro.
Mengetahui bahwa keluarganya telah dipermalukan
(nipakasiri’) karena putri semata
wayangnya Andi Tenri kawin lari (silariang)
bersama kekasihnya, Karaeng Tiro lalu meminta putra tunggalnya Andi Aso untuk
menyelesaikan persoalan tersebut sesuai dengan cara dan prinsip suku Bugis-Makassar
yaitu dengan menggunakan badik. Karaeng Tiro mewariskan badik pusaka I La
Sanrego yang merupakan warisan keluarga yang telah memakan banyak darah musuh
dan penghianat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Bagi orang Bugis-Makassar,
persoalan siri’ adalah persoalan
adat, dan harus diselesaikan secara adat.
Perasaan dilema yang melanda Andi Aso
antara rasa sayang kepada adik perempuannya dan upaya melaksanakan amanah
tersirat sang ayahanda untuk menyelesaikan permasalahan ini demi menegakkan
kembali harga diri dan martabat keluarga yang telah dinodai oleh Andi Tenri
bersama kekasihnya Andi Firman.
Andi Aso
didampingi oleh anak angkat Karaeng Tiro bernama Limpo kemudian mencari Andi
Tenri dan Andi Firman hingga ke kota Makassar.
Beberapa waktu
beselang Karaeng Tiro Wafat karena serangan jantung akibat dipermalukan oleh
seorang warga yang menanyakan keberadaan Andi Tenri ketika menuju ke acara
perkawinan kerabatnya. Mendengar kabar bahwa tettanya mennggal dunia Andi
Tenri dan sang suami (sambil membawa bayi mereka yang baru lahir) nekad datang
ke Bira, kampung halamannya untuk melihat jenazah tettanya untuk yang terakhir
kalinya. Andi Aso dan Daeng Limpo menyambut kedatangan mereka dengan
amarah yang membara. Badikpun dihunus oleh Andi Aso, bersiap melakukan
perhitungan dengan Andi Firman yang juga sudah menghunus badiknya.
“Ingat, badik yang sudah dikeluarkan
dari sarungnya, pantang dimasukkan kembali sebelum melaksanakan tugasnya!,”
tegas Daeng Limpo dengan mata menyala. Keadaan menjadi sangat tegang. Tanpa
rasa takut sedikitpun, Andi Tenri maju menghadapi Badik yang terhunus di tangan
sang kakak, siap menghadapi kemungkinan terburuk sebagai wujud tanggungjawab
dan resiko atas perbuatannya.
Dengan wajah yang murung dan tetesan
air mata di pipinya yang belum mengering, Karaeng Caya melerai konflik batin
antar kedua anaknya beserta menantunya. Kemudian menghampiri jenazah suaminya
sambil menggendong cucu pertamanya dari ramin putri tunggalnya dan memohon
kepada jenazah suaminya agar memaafkan kesalahan yang dilakukan oleh putri
tunggal mereka.
Pada akhirnya Limpo menghunuskan
serta menancapkan ujung badik di perutnya, sebagai tindakan karena ia tidak
mampu mengemban tugas untuk memulihkan Siri’ yang menjadi aib
bagi keluarga Karaeng Tiro dan agar badik I La Sanrego dapat kembali masuk
kedalam sarungnya karena telah melaksanakan yaitu dengan meneteskan darah.
Selesai.
Film ini sangat bermanfaat karena
film ini dapat menjadi penjelasan bagi masyarakat diluar sulawesi selatan yang
mengaggap masyarakat Bugis-Makassar sebagai suku yang kasar bahwa masyarakat
Bugis-Makassar tidak akan melakukan tindakan anarkis tanpa sebab, suku
Bugi-makassar akan bertindak keras apabiala menerima perlakuan yang tak
semestinya karena kami masyarakat bugis makassar menjungjung tinggi Siri’ na pacce sebagai falsafah yang
harus diterapkan.
Tapi, dalam penggarapan film ini
tentunya ada kekurangan seperti penggunaan beberapa kata berlogat yang agak
aneh ditelinga orang bugis-makassar, hal ini dapat dimaklumi karena tidak semua
pemeran berasal dari lokasi yang melatar belakangi film ini. selain pengunaan
logat, cara memegang senjata tradisional badik juga salah.
Film ini layak ditonton bagi seluruh
masyarakat indonesia. Bagi masyarakat di luar sulawesi selatan dimaksudkan agar
mengetahui adat masyarakat sulawesi selatan yang menjungjung tinggi budaya siri’ na pacce. Bagi masyarakat sulawesi
selatan khususnya suku Bugis-Makassar agar kembali memperdalam dan menghayati
makna siri’ na pacce yang mulai tergeser akibat arus modernisasi.
0 Response to "Siri' Berganjar Nyawa"
Post a Comment